Banyak pemilik usaha furnitur menganggap produk yang paling sering terjual adalah produk yang memberikan keuntungan terbesar. Padahal dalam praktiknya, produk dengan volume penjualan tertinggi belum tentu menghasilkan profit yang paling baik.
Sebagai contoh, sebuah perusahaan mungkin menjual ratusan unit meja kerja setiap bulan, tetapi margin keuntungannya sangat tipis karena persaingan harga yang ketat. Di sisi lain, lemari custom atau furniture built-in mungkin terjual lebih sedikit, tetapi memberikan margin keuntungan yang jauh lebih besar.
Karena itu, penting bagi perusahaan untuk tidak hanya melihat jumlah penjualan, tetapi juga memahami profitabilitas setiap produk yang dijual.
Mulailah dengan Menghitung Pendapatan per Produk
Langkah pertama adalah mengetahui total pendapatan yang dihasilkan oleh masing-masing produk selama periode tertentu.
Misalnya dalam satu bulan:
Meja kerja: Rp300 juta Lemari pakaian custom: Rp180 juta Kitchen set: Rp250 juta Meja meeting: Rp120 juta
Data ini memberikan gambaran mengenai kontribusi penjualan setiap produk. Namun angka pendapatan saja belum cukup untuk menentukan produk mana yang paling menguntungkan.
Hitung Harga Pokok Produksi Secara Akurat
Kesalahan yang sering terjadi adalah hanya menghitung biaya material saat menentukan keuntungan suatu produk. Padahal harga pokok produksi mencakup lebih dari sekadar bahan baku.
Komponen yang perlu diperhitungkan antara lain:
Material utama Hardware dan aksesoris Biaya finishing Upah tenaga kerja Biaya mesin produksi Biaya listrik workshop Overhead produksi
Semakin lengkap perhitungan biaya yang dilakukan, semakin akurat hasil analisis profitabilitas yang diperoleh.
Gunakan Margin Kotor sebagai Indikator Awal
Setelah mengetahui pendapatan dan biaya produksi, perusahaan dapat menghitung laba kotor setiap produk.
Rumusnya:
Laba Kotor = Pendapatan − Harga Pokok Produksi
Contoh:
Produk Pendapatan HPP Laba Kotor Meja Kerja Rp300 juta Rp240 juta Rp60 juta Lemari Custom Rp180 juta Rp108 juta Rp72 juta Kitchen Set Rp250 juta Rp175 juta Rp75 juta Meja Meeting Rp120 juta Rp96 juta Rp24 juta
Dari data tersebut terlihat bahwa meskipun meja kerja memiliki omzet tertinggi, kitchen set dan lemari custom menghasilkan laba kotor yang lebih besar.
Hitung Margin Profit Setiap Produk
Selain melihat nilai keuntungan, perusahaan juga perlu menghitung margin profit untuk mengetahui efisiensi setiap produk.
Rumusnya:
Margin Profit = (Laba Kotor ÷ Pendapatan) × 100%
Hasil contoh:
Meja kerja = 20% Lemari custom = 40% Kitchen set = 30% Meja meeting = 20%
Dari sini terlihat bahwa lemari custom menghasilkan margin paling tinggi, sehingga setiap rupiah penjualan memberikan keuntungan yang lebih besar dibandingkan produk lainnya.
Perhatikan Waktu Produksi yang Dibutuhkan
Produk yang memiliki margin tinggi belum tentu menjadi pilihan terbaik jika proses produksinya terlalu lama.
Sebagai contoh:
Lemari custom menghasilkan profit Rp72 juta dalam waktu produksi 30 hari. Kitchen set menghasilkan profit Rp75 juta dalam waktu produksi 15 hari.
Dalam kondisi tersebut, kitchen set mungkin lebih menarik karena menghasilkan profit yang hampir sama dalam waktu yang lebih singkat.
Oleh karena itu, analisis profitabilitas sebaiknya juga mempertimbangkan produktivitas dan kapasitas produksi yang tersedia.
Analisis Biaya Rework dan Komplain Pelanggan
Beberapa produk mungkin terlihat menguntungkan di atas kertas, tetapi sering menimbulkan revisi, perbaikan, atau komplain pelanggan.
Biaya rework seperti penggantian material, pengerjaan ulang, atau kunjungan tambahan ke lokasi pelanggan dapat mengurangi keuntungan secara signifikan.
Jika biaya-biaya ini tidak dicatat, perusahaan akan mendapatkan gambaran profit yang tidak akurat.
Identifikasi Produk yang Menyerap Modal Terbesar
Selain margin keuntungan, perusahaan juga perlu melihat seberapa besar modal yang harus dikeluarkan untuk memproduksi suatu produk.
Produk dengan nilai material tinggi biasanya membutuhkan modal kerja yang lebih besar. Jika pembayaran pelanggan dilakukan secara bertahap, dana perusahaan bisa tertahan cukup lama.
Dalam beberapa kasus, produk dengan margin sedikit lebih rendah tetapi perputaran kas yang lebih cepat justru memberikan manfaat yang lebih baik bagi bisnis.
Gunakan Data Profitabilitas untuk Menentukan Strategi Penjualan
Setelah mengetahui produk yang paling menguntungkan, perusahaan dapat mengambil berbagai keputusan strategis, seperti:
Memprioritaskan produk dengan margin tertinggi. Menyesuaikan harga produk yang marginnya terlalu rendah. Mengurangi promosi pada produk yang kurang menguntungkan. Mengembangkan varian produk dengan profitabilitas tinggi. Memfokuskan kapasitas produksi pada produk yang memberikan return terbaik.
Pendekatan berbasis data seperti ini membantu perusahaan meningkatkan profit tanpa harus selalu meningkatkan volume penjualan.
Profitabilitas Produk Adalah Kunci Pertumbuhan Bisnis Furnitur
Banyak usaha furnitur fokus mengejar omzet, tetapi lupa menganalisis produk mana yang benar-benar menghasilkan keuntungan. Akibatnya, sumber daya perusahaan sering digunakan untuk memproduksi barang yang laris tetapi kurang menguntungkan.
Dengan memahami profitabilitas setiap produk, perusahaan dapat mengalokasikan tenaga kerja, material, dan kapasitas produksi secara lebih efektif sehingga pertumbuhan bisnis menjadi lebih sehat dan berkelanjutan.
Analisis Profit Produk Secara Real-Time dengan TensorFinance
TensorFinance adalah aplikasi keuangan dan akuntansi berbasis cloud yang terintegrasi langsung dengan TensorERP untuk membantu perusahaan furnitur memahami profitabilitas setiap produk secara lebih akurat. Data penjualan, penggunaan material, biaya produksi, persediaan, dan keuangan terhubung dalam satu sistem sehingga manajemen dapat melihat margin keuntungan setiap produk secara real-time. Dengan informasi yang lebih lengkap dan akurat, perusahaan dapat menentukan strategi produksi dan penjualan yang lebih tepat untuk meningkatkan profitabilitas bisnis secara keseluruhan.