Banyak pemilik usaha furnitur custom merasa proyek yang dikerjakan berjalan lancar, pelanggan puas, dan pembayaran diterima sesuai jadwal. Namun saat akhir bulan atau akhir tahun, keuntungan perusahaan ternyata jauh lebih kecil dari yang diperkirakan.
Penyebab utamanya adalah profit proyek sering dihitung hanya berdasarkan selisih antara nilai kontrak dan biaya material. Padahal terdapat banyak biaya lain yang ikut menentukan apakah sebuah proyek benar-benar menghasilkan keuntungan atau justru menggerus margin perusahaan.
Tanpa perhitungan yang lengkap, perusahaan bisa saja menerima banyak proyek tetapi tetap mengalami kesulitan meningkatkan profit secara keseluruhan.
Mulailah dari Nilai Kontrak atau Total Penjualan
Langkah pertama adalah menentukan total pendapatan yang diperoleh dari proyek tersebut. Nilai ini biasanya berasal dari kontrak atau sales order yang telah disepakati dengan pelanggan.
Sebagai contoh, sebuah proyek pembuatan furnitur kantor memiliki nilai kontrak sebesar Rp500 juta. Angka ini menjadi dasar untuk menghitung profit proyek.
Jika terdapat pekerjaan tambahan (variation order) selama proyek berlangsung, nilainya juga perlu dimasukkan agar pendapatan proyek tercatat secara lengkap.
Hitung Seluruh Biaya Material
Biaya material biasanya menjadi komponen terbesar dalam proyek furnitur custom. Semua bahan yang digunakan harus dicatat secara rinci, termasuk:
Kayu solid Plywood MDF HPL Veneer Cat dan finishing Hardware Kaca Aluminium Aksesoris lainnya
Misalnya total material yang digunakan dalam proyek mencapai Rp220 juta.
Kesalahan yang sering terjadi adalah hanya menghitung pembelian material tanpa memperhitungkan material tambahan yang dibeli selama proses produksi atau material yang terbuang akibat kesalahan pengerjaan.
Masukkan Biaya Tenaga Kerja Produksi
Selain material, tenaga kerja juga merupakan komponen biaya yang sangat penting.
Biaya ini mencakup:
Tukang kayu Operator mesin Tim finishing Quality control Tim instalasi
Jika proyek berlangsung selama dua bulan dengan total biaya tenaga kerja sebesar Rp80 juta, maka angka tersebut harus dibebankan ke proyek yang bersangkutan.
Tanpa pencatatan biaya tenaga kerja yang akurat, profit proyek sering terlihat lebih tinggi daripada kondisi sebenarnya.
Jangan Lupakan Biaya Produksi Tidak Langsung
Banyak perusahaan hanya menghitung material dan tenaga kerja, padahal masih ada berbagai biaya produksi tidak langsung yang ikut mendukung penyelesaian proyek.
Contohnya:
Listrik workshop Sewa bangunan Bahan habis pakai Perawatan mesin Penyusutan mesin produksi Peralatan kerja Internet dan komunikasi operasional
Biaya-biaya ini sering disebut overhead produksi dan harus dialokasikan ke setiap proyek.
Misalnya overhead yang dialokasikan ke proyek sebesar Rp25 juta.
Perhitungkan Biaya Pengiriman dan Instalasi
Pada proyek furnitur custom, pekerjaan tidak berhenti ketika produk selesai diproduksi. Barang masih harus dikirim dan dipasang di lokasi pelanggan.
Biaya yang perlu dihitung antara lain:
Transportasi Bahan packing Akomodasi tim instalasi Konsumsi lapangan Alat bantu pemasangan
Misalnya total biaya pengiriman dan instalasi mencapai Rp15 juta.
Jika biaya ini tidak dimasukkan, profit proyek akan terlihat lebih besar dari kenyataannya.
Catat Biaya Rework dan Perbaikan
Rework merupakan salah satu penyebab kebocoran profit yang paling sering terjadi dalam industri furnitur.
Kesalahan ukuran, perubahan desain, kerusakan saat pengiriman, atau revisi mendadak dari pelanggan dapat menyebabkan biaya tambahan yang cukup besar.
Misalnya perusahaan harus mengeluarkan biaya Rp10 juta untuk memperbaiki beberapa unit furnitur sebelum serah terima proyek.
Biaya ini harus dimasukkan ke dalam perhitungan profit proyek agar hasilnya benar-benar mencerminkan kondisi yang sebenarnya.
Rumus Profit Proyek Furnitur Custom
Setelah seluruh biaya dikumpulkan, profit proyek dapat dihitung menggunakan rumus sederhana:
Profit Proyek = Pendapatan Proyek − Total Biaya Proyek
Contoh:
Pendapatan Proyek = Rp500 juta
Biaya Material = Rp220 juta
Biaya Tenaga Kerja = Rp80 juta
Overhead Produksi = Rp25 juta
Pengiriman & Instalasi = Rp15 juta
Rework = Rp10 juta
Total Biaya = Rp350 juta
Profit Proyek = Rp500 juta − Rp350 juta
Profit Proyek = Rp150 juta
Margin profit proyek:
Margin = (Profit ÷ Pendapatan) × 100%
Margin = (Rp150 juta ÷ Rp500 juta) × 100%
Margin = 30%
Dengan cara ini, perusahaan dapat mengetahui profit aktual dari setiap proyek yang dikerjakan.
Gunakan Data Profit untuk Mengambil Keputusan
Setelah profit proyek diketahui, data tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi kinerja bisnis.
Perusahaan dapat mengetahui:
Jenis proyek yang paling menguntungkan Pelanggan dengan margin terbaik Produk yang menghasilkan profit tertinggi Area yang paling sering menyebabkan pembengkakan biaya Efisiensi tim produksi dan instalasi
Informasi ini sangat berharga untuk meningkatkan profitabilitas perusahaan pada proyek-proyek berikutnya.
Pantau Profit Proyek Secara Real-Time dengan TensorFinance
Menghitung profit proyek furnitur custom secara manual sering kali memakan waktu dan rentan terhadap kesalahan pencatatan. TensorFinance hadir sebagai aplikasi keuangan dan akuntansi berbasis cloud yang terintegrasi langsung dengan TensorERP untuk membantu perusahaan furnitur memantau biaya dan profit proyek secara real-time. Seluruh transaksi pembelian material, penggunaan persediaan, biaya tenaga kerja, pengeluaran operasional, hingga penagihan pelanggan dapat terhubung dalam satu sistem. Dengan demikian, manajemen dapat mengetahui profit setiap proyek secara lebih cepat, akurat, dan transparan sehingga keputusan bisnis dapat diambil berdasarkan data yang benar-benar mencerminkan kondisi lapangan.