Banyak pemilik usaha furnitur merasa bisnisnya berjalan baik karena pesanan terus masuk dan omzet meningkat dari waktu ke waktu. Namun ketika ditanya berapa margin keuntungan sebenarnya dari setiap produk atau proyek yang dikerjakan, tidak sedikit yang kesulitan memberikan jawaban yang pasti.
Sebagian hanya memberikan perkiraan, sementara yang lain mengandalkan perhitungan sederhana berdasarkan selisih harga jual dan biaya material. Padahal margin keuntungan yang akurat membutuhkan perhitungan yang jauh lebih lengkap.
Akibatnya, banyak perusahaan furnitur yang terlihat sibuk dan memiliki omzet tinggi, tetapi profit yang diperoleh ternyata jauh lebih kecil dari yang diperkirakan.
Hanya Menghitung Biaya Material
Kesalahan paling umum dalam bisnis furnitur adalah menganggap biaya material sebagai satu-satunya komponen biaya produksi.
Sebagai contoh, sebuah lemari custom dijual seharga Rp15 juta dengan biaya material Rp9 juta. Banyak yang langsung menyimpulkan bahwa keuntungan produk tersebut adalah Rp6 juta atau sekitar 40%.
Padahal masih terdapat berbagai biaya lain yang belum diperhitungkan, seperti:
Upah tenaga kerja Biaya finishing Listrik workshop Penyusutan mesin Transportasi Instalasi Biaya pengawasan proyek Biaya administrasi
Ketika biaya-biaya tersebut dimasukkan, margin keuntungan yang sebenarnya bisa jauh lebih rendah dari perkiraan awal.
Overhead Produksi Sering Diabaikan
Overhead produksi adalah biaya yang tidak langsung terlihat pada satu produk tertentu tetapi tetap diperlukan untuk menjalankan operasional.
Contohnya meliputi:
Sewa workshop Listrik dan air Perawatan mesin Gaji supervisor produksi Peralatan kerja Software desain Internet operasional
Karena biaya ini tidak secara langsung melekat pada satu produk, banyak perusahaan tidak mengalokasikannya ke dalam perhitungan harga pokok produksi.
Akibatnya, profit terlihat lebih tinggi di atas kertas daripada kondisi sebenarnya.
Tidak Mengukur Waktu dan Produktivitas Tenaga Kerja
Dalam bisnis furnitur custom, tenaga kerja memiliki kontribusi yang sangat besar terhadap biaya produksi.
Namun banyak perusahaan tidak memiliki data mengenai:
Berapa jam kerja yang digunakan untuk setiap proyek. Berapa biaya tenaga kerja per unit produk. Berapa biaya lembur yang terjadi. Berapa biaya rework akibat kesalahan produksi.
Tanpa data tersebut, perusahaan sulit mengetahui biaya aktual yang dibutuhkan untuk menghasilkan suatu produk dan akhirnya tidak dapat menghitung margin secara akurat.
Rework dan Pemborosan Tidak Tercatat
Kesalahan ukuran, kerusakan material, revisi desain, maupun pekerjaan ulang sering terjadi dalam industri furnitur.
Masalahnya, biaya-biaya tersebut sering dianggap sebagai bagian normal dari operasional dan tidak dicatat secara khusus.
Padahal rework dapat mengurangi keuntungan secara signifikan karena melibatkan tambahan material, tenaga kerja, dan waktu produksi.
Jika pemborosan ini tidak masuk dalam perhitungan biaya, margin yang dilihat manajemen akan selalu lebih tinggi daripada margin yang sebenarnya terjadi di lapangan.
Tidak Memisahkan Profit Antar Produk
Banyak usaha furnitur hanya melihat keuntungan perusahaan secara keseluruhan tanpa menganalisis profitabilitas masing-masing produk.
Akibatnya, produk yang sebenarnya kurang menguntungkan dapat terlihat baik karena "ditutupi" oleh keuntungan dari produk lain yang memiliki margin lebih tinggi.
Sebagai contoh:
Kitchen set menghasilkan margin 35%. Lemari custom menghasilkan margin 30%. Meja kantor hanya menghasilkan margin 10%.
Jika semuanya digabung dalam satu laporan, perusahaan mungkin tidak menyadari bahwa sebagian kapasitas produksi digunakan untuk produk dengan margin yang rendah.
Harga Jual Ditentukan Berdasarkan Pasar, Bukan Biaya Aktual
Banyak pengusaha furnitur menentukan harga dengan melihat harga kompetitor atau mengikuti standar pasar.
Pendekatan ini memang umum digunakan, tetapi menjadi berbahaya jika perusahaan tidak memahami biaya aktual yang mereka keluarkan.
Dalam kondisi tertentu, harga pasar mungkin sudah terlalu rendah untuk menutupi seluruh biaya produksi dan operasional.
Akibatnya perusahaan tetap mendapatkan pesanan, tetapi keuntungan yang diperoleh sangat kecil atau bahkan negatif.
Tidak Memiliki Sistem yang Menghubungkan Produksi dan Keuangan
Di banyak perusahaan furnitur, data pembelian, stok, produksi, dan keuangan masih berjalan secara terpisah.
Tim produksi memiliki data penggunaan material sendiri, bagian gudang memiliki data stok sendiri, sementara bagian keuangan memiliki catatan transaksi yang berbeda.
Karena informasi tidak terhubung, perusahaan sulit memperoleh gambaran biaya yang lengkap untuk setiap produk atau proyek.
Inilah salah satu alasan utama mengapa banyak pengusaha furnitur tidak benar-benar mengetahui margin keuntungan mereka yang sesungguhnya.
Margin yang Akurat Adalah Dasar Pengambilan Keputusan
Mengetahui margin keuntungan yang sebenarnya bukan sekadar kebutuhan bagian keuangan. Informasi ini sangat penting untuk menentukan strategi bisnis.
Dengan data margin yang akurat, perusahaan dapat:
Menentukan harga jual yang lebih tepat. Memilih produk yang paling menguntungkan. Mengurangi pemborosan produksi. Mengevaluasi kinerja proyek. Mengalokasikan kapasitas produksi secara lebih efektif. Meningkatkan profit perusahaan secara berkelanjutan.
Tanpa informasi tersebut, banyak keputusan bisnis hanya didasarkan pada asumsi dan perkiraan.
Ketahui Margin Produk Secara Akurat dengan TensorFinance
TensorFinance adalah aplikasi keuangan dan akuntansi berbasis cloud yang terintegrasi langsung dengan TensorERP untuk membantu perusahaan furnitur menghitung dan memantau margin keuntungan secara lebih akurat. Dengan integrasi antara pembelian, persediaan, produksi, penjualan, dan keuangan, seluruh biaya dapat ditelusuri hingga ke tingkat produk maupun proyek. Manajemen dapat melihat profitabilitas secara real-time, mengidentifikasi sumber pemborosan, serta mengambil keputusan berdasarkan data yang lebih lengkap dan terpercaya. Dengan demikian, perusahaan tidak hanya mengetahui berapa besar omzet yang dihasilkan, tetapi juga memahami keuntungan sebenarnya yang diperoleh dari setiap produk dan proyek yang dikerjakan.